Sabtu, 05 Juli 2014

Catatan Perjalanan Gunung Merbabu #2

Sebelumnya : Catatan Perjalanan Gunung Merbabu #1


salah satu jalur gunung merbabu



Seuasai berkemas dan ritual pagi lainnya, kaki mulai kembali melangkah. Mentari semakin tinggi diiringi terik yang menghangatkan kulit. Jalur landai mulai tergantikan dengan tanjakan-tanjakan yang cukup menguras energi. Perjalanan kami kali ini pun masih sama, sepi dan tidak ada rombongan lain yang bersama kami. Bunga-bunga edelweiss mulai nampak menghiasi jalan yang kami lalui, selain cantigi dan tumbuhan lain penghuni merbabu yang seolah tumbuh bahagia. Pos demi pos mulai terlewati, jalur demi jalur telah terlalui, lukisan panorama alam tersaji menemani perjalanan, alangkah indahnya secuil sudut negeri ini yang sangat sayang bila kita mengotorinya. 


Gunung merbabu sendiri memiliki beberapa puncakan, selain puncak kenteng songo, terdapat pula puncak syarif dan puncak triangulasi. Bentang alam yang memanjang dengan puncakan-puncakan serta lembahan-lembahan memang menjadi daya tarik gunung merbabu. Sebagai gunung api, kawah yang terlihat memang tidak cukup besar dan tidak berbentuk cerukan. Yang terlihat hanya gumpalan batu kekuning-kuningan dengan kepulan asap tipis berbau belerang di beberapa titiknya 

Seusai melewati sebuah jalur tipis berbatu dan agak sedikit memanjat, sampailah kami di sebuah tanah lapang yang tidak terlalu luas, di tengahnya terdapat kumpulan batu dengan cerukan kecil seperti mangkok di dalamnya, itulah kenteng songo, pucuk tertinggi gunung merbabu. Udara dingin cukup menusuk tulang dan angin yang berhembus cukup kencang menyambut kami. Di kejauhan lamat-lamat terlihat gunung yang tadi pagi saya cari, merapi. Ya, merapi memang bersebelahan dengan merbabu. Saya mencoba membayangkan bagaimana suasana mengerikan saat merapi mengamuk  hebat beberapa tahun lalu, yang mana di kaki gunungnya ribuan orang bermukim dan sangat berakibat fatal terhadap keadaan masyarakat. Tapi itulah alam, mungkin alam mencoba menyeimbangkan dirinya sendiri dengan berbagai cara, salah satunya yaitu letusan gunung. Dan kita sebagai manusia hanya bisa mengantisipasi dan menyesuaikan diri dengan kondisi lingkungannya.

kenteng songo


Tak berapa lama kami di puncak, kembali kami bergegas turun melalui jalur selo. Lembayung senja berpermadani awan hiasi langkah kami tinggalkan kenteng songo, sang atap sembilan gunung merbabu. Gulita mulai menyergap, lampu kepala mulai sinari malam dengan titik-titik cahaya di kegelapan. Kami ber-7 terus berjalan perlahan menuruni lereng yang cukup terjal dan licin. Dan hujan seolah ingin menemani perjalanan kami, akhirnya sampailah kami di sebuah hamparan padang rumput, yang biasa di sebut dengan pos sabana 2. Di sana kami langsung bergegas membuka tenda dan memasak hingga akhirnya satu persatu dari kami tertidur pulas ditemani suara hembusan angin kencang yang berputar-putar menguncang tenda.


Pagi kembali datang sambut awal hari yang sangat cerah dan dingin. Sabana kecil dibentengi bukit memanjang hijau muda, jingga merona di ufuk timur hiasi senin yang indah. Gemerlap buliran embun di permukaan rumput tersibak semburat cahaya. Di atas bukit sana, saya dan beberapa kawan mencoba menikmati panorama yang tersaji. Indah. Kata itu mungkin yang cukup mewakili apa yang saya lihat dan rasakan. Gunung merapi gagah menjulang di hadapan sedikit tersapu kabut. Di sisi lainnya sang mentari baru keluar dari peraduannya ditengah horizon. Ahh, semua itu mungkin hanya bonus dari sebuah perjalanan, perjalanan yang mungkin akan dimaknai berbeda-beda oleh masing-masing dari kami.  Letih seharian kemarin menjadi obat pelipur lara, terdiam dan sejenak merenungi maha besarnya semesta beserta isinya, dan alangkah egois dan kecilnya kita sebagai manusia.



Hangat mentari berubah menjadi terik membakar kulit. Perjalanan kami belum berakhir, untuk sampai pintu gerbang jalur selo dan masih membutuhkan ribuan ayunan langkah. Dari sabana 2 dan seterusnya barulah kami bertemu banyak pendaki dari berbagai daerah khususnya dari daerah jawa tengah. Jalur-jalur dengan turunan sangat curam kembali harus kami lalui. Jalur terbuka dan berbukit-bukit mulai berganti menjadi jalur di dalam hutan yang rimbun. Sepanjang perjalanan, kebersihan jalur yang kami lalui tidak begitu kentara dengan sampah, hanya dibeberapa titik banyak sampah berserakan seperti di sabana 2 dan sabana 1. Petunjuk jalur pun dirasa sangat minim bahkan mungkin hampir tidak ada selain plang penanda pos. Setelah beberapa jam berjalan, ahh sampailah kami di gerbang pendakian selo yang sepi. Rasa letih terbayar sudah, sampailah di titik akhir pendakian. Saya pun kembali teringat kutipan dari Mr. Mallory sang pendaki gunung everest  “Because it is there…”

.


foto : Ady Saputra

Komunitas satubumikita, pendakian Gunung Merbabu 24 - 27 Mei 2014 :

  • Siti Robiah
  • Fay Adrienne
  • Saleh Havid
  • Ady Saputra
  • Kukuh Yudi Prasetyo
  • Gustaf Ridwan Munandar
  • Taufik Hidayat
Terima kasih.

1 komentar:

  1. Mau nanya dong, dari lempuyangan ke basecamp wekas nya gimana ya ? dan lokasi basecamp nya dimana ? terimakasih~

    BalasHapus

Silahkan tinggalkan jejak anda.

Terima kasih sudah berkomentar