Tampilkan postingan dengan label puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label puisi. Tampilkan semua postingan

Jumat, 30 Maret 2012

Puisiku memang tak harus indah : Meracau

Aku bukanlah Polwan pengatur lalu lintas atau Polisi Ganteng
apalagi Pramugari kereta api lintas Provinsi antar Pulau

Aku hanya anak yang di dalam kartu keluarga tercantum berkelamin laki-laki

Aku adalah anak kandung dari mamah dan papah melalui proses biologis yang panjang dan mungkin menyenangkan

Menurutku puisi itu tak harus selalu indah dan puitis
Kenapa, Cinta?



Karena seperti sifat manusia ada yang baik dan buruk
Kenapa, Cinta?

Tulislah apa yang kau mau, sebelum kau terserang pikun dini
Kenapa, Cinta?

Ingat pula, jangan menulis puisi di dinding toilet terminal yang bau

***

Senin, 22 Agustus 2011

Puncak Manglayang 16-17 Agustus


Semalam, rembulan berteman ribuan bintang sinari relung hati hangatkan jiwa
Bintang-bintang berkerlip manja bersama gemerlapnya jutaan lampu kota di bawah sana
 Gelap malam, sunyi senyap tenangkan jiwa diantara syahdunya sang harmoni alam...

Minggu, 14 Agustus 2011

Dimana saat kematian datang


Dimana saat kematian datang, malaikat maut menjemput kita
Dimana saat kita berhenti bernafas dan jantung pun tak berdetak
Dimana saat ruh kita tinggalkan raga
Dimana saat kita tinggalkan kefanaan dunia
Dimana saat kita tinggalkan orang-orang yang kita cintai
Dimana saat kita benar-benar sendiri
Dimana saat kita dimandikan oleh orang lain, bukan sebagai seorang bayi tapi sebagai jenazah
Dimana saat kita dibalutkan kain kafan putih tak berhias
Dimana saat kita terbujur kaku disholatkan
Dimana saat bendera kuning terpasang tandakan kematian kita
Dimana saat jasad kita dalam kungkungan keranda jenazah
Dimana saat jasad kita dibenamkan dalam liang lahat.

Sendiri, ya hanya seorang diri
Terkubur dalam setumpuk tanah merah sempit
Tanpa ada orang tercinta menemani
Tanpa ada harta bergemilang tolong diri
Tanpa ada kawan obati sepi
Sendiri, ya hanya seorang diri.

Sabtu, 13 Agustus 2011

Waktu

Waktu terus berjalan dan berputar tiada henti, bila bisa memutar waktu dan kembali ke masa lalu ingin rasanya memperbaiki apa yang telah dilakukan dulu, tapi ya sudahlah waktu adalah sebuah dimensi yang tak dapat di ganggu gugat, jalani saja hidup ini dengan yang terbaik dan jadikan masa lalu sebagai bahan pembelajaran tuk masa depan. Lahir,tumbuh, hidup dan mati adalah sebuah perjalanan manusia yang harus dilewati.



Rabu, 10 Agustus 2011

Tak berjudul

Suara tangis memecah kesunyian
Menandakan seorang bayi telah lahir ke dunia
"Sungguh berat beban yang ku pikul" celoteh sang bayi dalam tangisan
Ku lihat sosok-sosok asing di hadapanku...


Ku lihat mereka begitu senang
Seolah aku adalah hadiah paling indah
Tapi ketakutan yang sangat menyergapku,
Namun aku hanya bisa menangis dan menangis...


Kamis, 14 April 2011

Gelap Hening

Gelap datang membawa hening

Kabut tipis bersambut rinai hujan

Basahi bunga mawar indah yang tumbuh tanpa kawan

Tak ada angin berhembus

Tak ada suara binatang malam

Bulan dan bintang yang entah sedang bermain kemana

Yang ada hanya langit gelap tanpa penghias malam



Rinai hujan perlahan mereda menyisakan kesejukan

Kabut semakin menebal disambut angin yang mulai berhembus pelan

Goyangkan mawar indah yang tumbuh tanpa kawan

Bulan dan bintang sepertinya tak ingin menampakkan diri

Gelap pun berlanjut membawa hening

Kamis, 24 Maret 2011

Bandung Lautan Api

Dimana saat ku berpijak kini
Kota periangan yang ku sayang
Ingatku akan sebuah peristiwa besar di kota ini
Saat penghuni kota tak sudi kotanya direbut kompeni

Api menyulut berkobar membakar semangat
Walaupun harta,jiwa dan raga harus dikorbankan demi sebuah perjuangan
Api berkobar membumbung tinggi membakar kota
Sebuah manifesto penderitaan yang memuncak dari kolonialisme berkepanjangan

Sekarang telah menjadi lautan api
Mari bung rebut kembali

Bandung,24 Maret 2011

Selasa, 15 Maret 2011

Seringai Sang Serigala

Malam berkabut pekat, angin bertiup kencang hempaskan ranting-ranting kering

Di langit bulan purnama menerangi hutan pinus yang sunyi

Serigala tua yang sakit dan kesepian menyeringai keras ungkapkan kesendiriannya

Dia berjalan gontai menembus hutan, meniti melangkah ke sebuah bukit batu

Di ujung puncak bukit batu,dia berdiri menatap ke atas bulan purnama yang menemani

Serigala tua yang mulai merasa dekat dengan ajal

Kembali menyeringai pecahkan keheningan malam menanti akhir cerita hidupnya

Di dalam naungan cahaya purnama yang temaram

Akhir dari seringai sang serigala



BDG,13:03:20011,22:52WIB

Senin, 07 Februari 2011

Ekspresi Diri

Gelak tawa terkekeh geli melihat diri
Menutupi miris kegamangan hidup
Mengelabui hati kecil yang merintih perih
Hidup diantara dagelan-dagelan satir sang penguasa
Adakah yang lebih lucu dibanding cerita di negeriku ini
Cerita yang akan membuat terpingkal hingga menangis
Bahkan hingga dapat membuat hati teriris

Antara tawa dan tangis seakan ada jurang pemisah yang dalam
Tertawa melihat yang menangis dan menangis melihat yang tertawa
Suara sumbang yang nyaring seakan terbungkam tek terdengar
Sedangkan mata yang terbuka terbelalak tak dapat melihat dan buta


Suara mengelak sang penguasa atas keberhasilannya mengelabui rakyat yang dia wakili dan bela
Rakyat manakah yang kau bela?
Rakyat manakah yang kau wakili?
Kami tak mersa terwakili dan tak terbela olehmu..!!

Gelegar,pecahlah kembali gelak tawa terkekeh geli itu nyaring terdengar mentertawai diri