Hari minggu yang lalu, setelah bertemu kawan di bilangan Jalan Dipati ukur, saya menyempatkan diri untuk berkunjung ke toko buku di jalan Merdeka untuk membaca buku (bukan membeli :P). Saya sedikit tertarik dengan seri buku tempo yang mengulas tentang huru-hara di zaman orde baru, dan salah satu seri buku tersebut mengulas tentang aktivis di zaman orba, yaitu widji thukul.
Beberapa tahun yang lalu sebenarnya saya sempat mengetahui sosok ini di majalah tempo juga, edisi kebangkitan nasional yang saya beli di lapak buku dan majalah bekas. Walau hanya sepintas mengenal sosok ini saya cukup tertarik dengan sosoknya yang sangat merakyat serta puisi-puisinya.
Puisinya yang terkenal adalah; PERINGATAN. Saya pun sedikit teringat kembali dengan lirik lagu dari band punk/hardcore veteran Bandung, Jeruji yang berjudul LAWAN, yang salah satu kalimat dalam liriknya berbunyi: " hanya ada satu kata : LAWAN", dan sama dengan kalimat terakhir di puisi peringatan widji thukul.
Entahlah, Selain itu kenapa saya teringat juga dengan Herry Sutresna a.k.a ucok "homicide" a.k.a Morgue Vanguard, musisi hiphop yang sekaligus aktivis, dengan lirik-kirik dalam lagunya yang cukup keras menentang tirani sekaligus pernah bergabung dengan partai yang sama dengan Widji Thukul yaitu PRD (Partai rakyat Demokratik).
Entahlah, Selain itu kenapa saya teringat juga dengan Herry Sutresna a.k.a ucok "homicide" a.k.a Morgue Vanguard, musisi hiphop yang sekaligus aktivis, dengan lirik-kirik dalam lagunya yang cukup keras menentang tirani sekaligus pernah bergabung dengan partai yang sama dengan Widji Thukul yaitu PRD (Partai rakyat Demokratik).
