Minggu, 29 Juni 2014

Catatan perjalanan Gunung Merbabu #1



24 - 27 Mei 2014


salah satu jalur gunung merbabu

Hujan di malam itu tak kunjung reda mengguyur kota Bandung, dan kami pun terpaksa berbasahan-basahan menembus buliran air yang tercurah. Jalan becek tergenang dimana-mana, terus berjalan memburu waktu. Ya sebentar lagi kereta api yang akan kami naiki akan segera berangkat tapi kami masih begegas berjalan. Nafas mulai tersengal sedikit berlari, suara dari corong pengeras suara mulai mengkomandoi para penumpang untuk segera bergegas masuk ke dalam gerbong, dan kami malah sejenak terjebak dalam antrian penumpang yang mengular. Entahlah bagaimana jadinya kalau kami tertinggal kereta, mungkin saya tak akan menulis catatan perjalanan ini. Kereta api pun melaju dalam buaian malam menembus gelap. Akhirnya kami bisa duduk dengan tenang dan sedikit bisa menghela nafas lega. Suasana di dalam gerbong kereta ekonomi itu cukup ramai, oleh rombongan ibu-ibu yang akan bertamasya, para pendaki dari itenas yang akan ke gunung rinjani, serta para penumpang lainnya yang masih sibuk menata barang bawaannya. 



Seperti tertera di judul, saya dan kawan-kawan dikala itu berencana mendaki gunung merbabu. Kami ber-7 berencana mendaki melalui jalur wekas dan turun melalui jalur selo. Butuh waktu sekitar 8 jam perjalanan dari stasiun kiaracondong bandung untuk sampai ke stasiun lempuyangan jogja sebagai tempat transit pertama kami. Udara pagi yang tidak begitu segar di kota gudeg menyambut kedatangan kami, suasana jalanan di sekitar stasiun lempuyangan masih cukup sepi. Dari kejauhan gerombolan ibu-ibu yang akan bertamasya saya lihat sedang menaiki sebuah bus pariwisata, sedang kami ber-7 masih bingung mencari angkutan umum (selain becak, taksi & ojeg) yang memang cukup sulit ditemukan apalagi pagi hari. Dan kami malah tedampar di trotoar jalan sembari makan pagi dengan kuah soto yang cukup mengenyangkan. 


Oke, saya skip intronya, agar tidak terlalu panjang. Singkat cerita setelah naik trans jogja, dilanjut naik bis tiga perempat jurusan ke arah semarang dan mencarter mobil bak terbuka ke magelang akhirnya kami sampai di titik awal pendakian yaitu basecamp wekas. Disana kami disambut hangat oleh kawannya ceceu. Bada ashar barulah kami melakukan pendakian. Diiringi gerimis dan suara langgam jawa dari pengeras suara warga yang sedang hajatan, kami mulai melangkah. Kabut tebal pun mulai mengiringi langkah  kami. Tak ada rombongan lain yang naik saat itu, dan sebaliknya kami  banyak berpapasan dengan yang baru turun. Batas antara lahan warga dan hutan kami lewati, kabut mulai menyingkir dan udara dingin menggantikan. Senja dan jingga menyeruak hiasi sisi langit, surya mulai kembali ke peraduan dan sebentar lagi temaram akan menggantikan suasana. 


Setelah berjalan cukup lama, kami pun baru sampai di pos 2 sebagai titik henti untuk membuka tenda, mengisi perut dan merebahkan tubuh dalam naungan kantung tidur. Ahh, Malam itu cuaca sangat cerah, titik-titik bintang gemintang dalam kumpulan galaksi yang entah apa namanya selain bimasakti menemani kami yang mulai tertidur pulas dalam buaian mimpi masing-masing. 

Pagi pun mulai menyambut, kabut tipis, buliran embun dan udara sejuk pegunungan menyapa awal hari. Dikejauhan terlihat 2 gunung berderet, menurut orang  itu katanya Gunung Sindoro dan Gunung Sumbing, saya malah menacri gunung merapi tapi memang tak terlihat dari pos 2 ini. Yang terlihat jelas adalah dinding terjal gunung merbabu dan puncakan-puncakannya yang berderet, dan entahlah mana pucuk tertingginya, yang biasa di sebut kenteng songo.




Seusai masak-masak dan ritual pagi lainnya kami pun mulai bergegas meneruskan perjalanan menuju puncak kenteng songo, yang menurut berbagai keterangan memiliki ketinggian 3.145 mdpl (meter diatas permukaan laut). Menurut keterangan yang saya kutip dari wikipedia, "merbabu" berasal dari gabungan kata "meru" (gunung) dan "abu" (abu). Nama ini baru muncul pada catatan-catatan Belanda.Gunung Merbabu sendiri konon pernah meletus pada tahun 1560 dan 1797. 

Yang menarik menurut saya dan masih menurut laman wikipedia adalah, di lerengnya pernah terdapat pertapaan terkenal dan pernah disinggahi oleh Bujangga Manik pada abad ke-15, Bujangga manik sendiri adalah seorang pangeran dari kerajaan sunda yang berkelana mencari ilmu hingga berkeliling pulau jawa dan bali. 

foto : Ady Saputra


Selanjutnya bisa baca di : Catatan perjalanan Gunung Merbabu #2



5 komentar:

  1. punten kang, kalau boleh saya mau tau lebih rinci tentang transport menuju merbabu kang, nuhun sebelumnya kang..

    BalasHapus
    Balasan
    1. dari bandung, sesuai catper diatas :

      -naik kereta ekonomi kahuripan, St.kiaracondong - St.lempuyangan Rp.50.000 (jadwalnya brangkat jam 8 mlm)

      -turun di St.lempuyangan, terus jalan kaki ke halte trans jogja

      -naik bis trans jogja ke terminal jombor (Rp.3000)

      -dari terminal jombor naik bis 3/4 jurusan ke arah
      semarang turun di persimpangan ke selo kalo mau jalur selo (Rp.10.000)

      - trus carter angkutan ke pintu masuk, sekitar Rp.30.000/orang (kalo rombongan), kalo sedikit naik ojeg

      -kalo mau jalur wekas, turun di mall (kalo ga salah mall artos) magelang, terus carter angkutan ke wekas, sama sekitar Rp.30.000/orang kalo banyakan.

      -tiket masuk Rp.3.000/orang

      Hapus
  2. gunung merbabu emang keren banget, apalagi kalo liat sabananya di musim hujan, hijau banget...

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya betul, keren banget :)

      Hapus
  3. dulu pernah naik merbabu lewat wekas, skrg pengen coba lewat suwanting, katanya sunsetnya bagus

    BalasHapus

Silahkan tinggalkan jejak anda.

Terima kasih sudah berkomentar