Jumat, 28 Maret 2014

Tanpa Judul (2)




Hari depan adalah sebuah misteri, sejam kemudian, semenit kemudian, sedetik kemudian, kita tak tahu apa yang akan terjadi. Pun dengan pikiran dan perbuatan yang akan kita lakukan bisa sangat cepat berubah. Atau apa yang akan terjadi dengan kita, kebahagiaan atau kesedihan atau rasa hambar, semua misteri. Adakalanya misteri tersebut  bisa kita tebak, tebakan itu mengerucut pada 2 jawaban  absolut; benar dan salah. Dan itulah kehidupan, kita tak tahu pasti alurnya seperti apa, hanya bisa berencana lalu berbuat dan memanen hasilnya dikemudian, cepat atau lambat, baik atau buruk. 


Dan hari terlalu sial hanya untuk meratapi kerumitan dan peliknya alur di masa lalu, masa kini atau melamuni hari depan yang tak pasti. Bermimpi berkepanjangan pun sama tak bergunanya. Terjaga dan tersadar agar tetap waras di dalam kehidupan yang secara kasat mata semakin gila. Ya gila, gila akan harta, jabatan, tahta, lawan jenis, keelokan, pujian, dunia, bahkan gila akan surgawi, gila akan agama. Segala sesuatu memang harus cukup takarannya. Rasa yang terlalu manis pun menjadi sangat  tak enak di lidah, dan itulah kehidupan, kadang kita lupa dan tak sadar, bahkan mungkin dari kita tak tahu cara menakar keseimbangannya.

Di pertengahan dan persimpangan jalan, entah mana jalan yang akan kita pilih, berbalik arah, mengikuti arus, berbelok atau berhenti di tengah jalan. Hari depan ditentukan oleh jalan yang kita pilih saat ini, dan entahlah, jalan mana yang akan kita pilih. Dan sebuah kepastian mutlak adalah disaat kita semua akan berada di titik yang sama, hari dimana kita kembali menjadi tiada dan itulah hari depan kita semua, dengan atau tanpa memilih jalan di persimpangan, tinggal menunggu waktu.

Bandung, 27 maret 2014

1 komentar:

Silahkan tinggalkan jejak anda.

Terima kasih sudah berkomentar