Rabu, 06 Juni 2012

Penelusuran Gua Petruk dan Gua Liah


Gombong, kebumen 2 Juni 2012

Setelah semua persiapan dan perlengakapan caving  selesai dikemas dan dikenakan, wearpak, helm, sepatu boots, headlamp sudah terpasang pada tubuh kami, perjalanan menuju starting point penelusuran gua pun dimulai. Sekitar jam 9 pagi, kami ber-9 sudah berada di mulut gua pertama yang akan kami jelajahi, yaitu Gua Petruk yang cukup besar menganga. Kegelapan dan ornamen khas gua seperti stalagmit, stalaktit, serta bebatuan yang membisu abadi menyambut kedatangan kami untuk memulai wahana petualangan yang entah apa alam akan suguhkan kepada kami. Sebelumnya Mas yos, teman sekaligus pemandu caving kami mengingatkan bahwa ada etika atau tata krama saat kita menelusuri  gua, ada 3 yaitu : 

  1. Jangan ambil apa pun kecuali gambar
  2. Jangan tinggalkan apapun kecuali jejak kaki
  3. Jangan membunuh apapun kecuali waktu
 *** 


Penelusuran Gua (Caving)

Kegiatan penelusuran gua atau biasa disebut Caving, menurut beberapa sumber telah cukup lama dikenal Indonesia. Persisnya kegiatan ini sudah mulai marak tahun 1980-an, ketika Persatuan Speleologi dan Caving Indonesia (Specavina) dibentuk di Bogor dengan tokoh-tokohnya antara lain dr. Ko King Tjoen, Norman Edwin (alm), Dr. Budi Hartono, dan Effendi Soleman. Mulailah dari sini kegiatan yang jadi hobi baru kala itu menyebar, terutama di kampus-kampus.

Hobi ini agaknya di awal perkembangannya terseok-seok karena yang didalaminya tak melulu keterampilan fisik saja namun juga aspek ilmiahnya. Selain, peralatan yang dibutuhkan pun sulit dibeli di sini. Specavina, ketika itu pula agak selektif membagi ”ilmu” pada peminat. Hanya mereka yang memiliki latar belakang keilmuan atau yang menyukai pengetahuan tentang speleologi yang boleh bergabung. Specavina sebagai pelopor ketika itu sengaja lebih menonjolkan unsur ilmiahnya (speleologi) ketimbang ”olahraganya” (caving).

Sejarah penelusuran gua di dunia, dimulai di Eropa sejak 200 tahun lalu. Eksplorasi pertama tercatat dalam sejarah adalah tanggal 15 Juli 1780, ketika Louis Marsalliers menuruni gua vertikal Fairies di Languedoc, Perancis. Kemudian pada tanggal 27 Juni 1888, seorang ahli hukum dari Paris bernama Eduard Alfred Martel mengikuti jejak Marssalliers. Penelusurannya kali ini direncanakan lebih matang dengan menggunakan peralatan lengkap seperti katrol, tangga gantung, dan perahu kanvas yang pada waktu itu baru diperkenalkan oleh orang-orang Amerika. Bahkan telephone yang baru diperkenalkan digunakan untuk komunikasi di dalam tanah. Usaha Martel ini dianggap sebagai revolusi di bidang penelusuran gua, sehingga ia disebut sebagai “Bapak Speleologi Modern”.

Sumber : 
http://campfireindonesian.forumotion.net/t9-sejarah-caving-di-indonesia

http://pendakigunung.wordpress.com/2009/03/23/teknik-telusur-gua-caving/

 
Gua Petruk

Mulut Gua Petruk

Petualangan dalam kegelapan gua pun di mulai, cahaya sang mentari perlahan mulai sirna dan tergantikan dengan cahaya-cahaya sorot lampu kepala yang kami kenakan. Ornamen alami di dalam Gua Petruk yang mengagumkan satu persatu mulai kami lewati, seperti stalagmit, stalaktit, flowstone yang telah mempunyai nama-nama tersendiri, diantaranya : Batu Payudara, Batu Buaya, Batu Maria, Batu Bapak Jenggot, Batu lumbung dan batu yang menyerupai hidung petruk yang panjang. Bisa jadi nama petruk diambil dari bentuk batu tersebut yang mirip petruk, tapi sayang sekarang hidung panjangnya sudah tak terlihat karena rusak oleh penambangan fosfat.  Petruk sendiri diambil dari  tokoh punakawan dalam pewayangan Jawa, di pihak keturunan/trah Witaradya. Sedangkan di Sunda, Petruk lebih dikenal dengan nama Dawala. Gua Petruk sendiri terbagi menjadi tiga tingkat dan mempunyai panjang sekitar 350 meter. Secara administratif gua ini berada di daerah  Desa Candirenggo Kecamatan Ayah, Kabupaten Kebumen.

Ornamen demi ornamen yang mebuat kami berdecak kagum mulai kami lewati satu persatu. Kegelapan, lembab, bau kotoran kelelawar menemani perjalanan penelusuran awal kami. Saat kami berada di sebuah ruangan, Mas Yos meminta kami untuk mematikan semua lampu dan yang tersisa hanya  kegelapan abadi,  ya mungkin itulah rasanya bila kita tak dapat melihat, gelap total yang ada hanya sura-suara serta tak ada cahaya setitik pun terlihat. Ya, itu membuat kami bersyukur masih diberi nikmat penglihatan yang kadang terlupa untuk kami syukuri.
Perjalanan masih berlanjut, medan semakin sulit dan menantang serta memacu adrenalin kami. Tak jarang kami harus merangkak, membungkuk, meloncat, mendaki, karena jalur yang kami lalui bervariasi, ada jalur yang hanya mempuntai rongga sekitar 50cm dengan lebar 75cm, mantap. Setelah sekitar 2 jam berlalu, kegelapan abadi mulai sirna, cahaya mulai terlihat samar dan akhirnya kami pun keluar di mulut Gua Grombongan.


Gua Liah


Mulut Gua Liah 2 (dua)

Sejenak kami beristirahat, perjalanan berlanjut dengan berjalan kaki di antara jalan setapak dan semak belukar serta kebun-kebun dan pemukiman warga. Kami beruntung saat kami beristirahat, kami diberi sebotol air sadapan kelapa yang diberi oleh warga. Rasanya sangat manis dan bermanfaat sebagai penambah kalori yang terkuras. Sekitar 1,5 jam trekking, kami pun sampai di mulut gua yang akan kami susur selanjutnya, yaitu Gua Liah 2 (dua). Mulut guanya sangat kecil dibanding mulut Gua Petruk dan tertutupi rerimbunan ilalang sehingga dari kejauhan tak terlihat bahwa di sana ada sebuag gua. Tak seperti Gua Petruk, Gua Liah bukan objek wisata yang terkenal dan tak direkomendasikan untuk wisata biasa.

Petualangan di Gua Liah pun dimulai, gua ini sepertinya pernah di tambang (fosfat) karena di dalamnya terdapat banyak sisa-sisa galian-galian tanah. Ornamen-ornamen yang tersaji tak kalah indah dan unik di banding Gua Petruk. Di tengah perjalanan, kami sudah harus merangkak melewati sebuah lubang yang sangat sempit, seperti seekor tikus kami pun melewati lubang-lubang tanah tersebut. Tak sampai disitu kami pun harus merangkak di aliran sungai bawah tanah. 


Adrenalin kami cukup dipacu di Gua Liah. Sungai bawah tanah yang terbentuk banyak membentuk jeram dan air terjun kecil yang airnya cukup jernih. Jalur demi jalur kami lewatu, sampailah kami di sebuah ruangan yang sangat besar, bila diibaratkan seperti sebuah ruangan Hall, atap dan ruangan yang sangat luas, dengan luas sekitar 100 meter persegi.

Menuruni bidang tegak

Air Terjun dalam Gua

Jalur ekstrim yang kami lalui ternyata masih banyak, di hall gua tersebut kami harus menuruni sebuah bidang tegak lurus dengan panjang sekitar 15 meter. Untuk menuruni bidang turunan tersebut kami harus menggunakan prosedur kemanan yang safety dengan bantuan tali dengan teknik Rapling. Peralatan berupa tali-tali panjat, webbing, karabiner dll sudah terpasang, satu persatu dari kami pun turun dengan selamat. Ternyata masih ada jalur-jalur merangkak dan kami harus berbasah kuyup merangakan jalur sungai bawah tanah. Kami pun sampai di sebuah air terjun kecil dengan ketinggian sekitar 4 meter, dari sana kami harus memanjat air terjun tersebut dengan bantuan webbing yang telah terpasang oleh Mas Yos. Sampailah kami di sebuah air terjun yang lebih tinggi sekitar 30 meter, jatuhan air yang menyegarkan membuat kelelahan kami sedikit sirna, terganti dengan kekaguman bentukan alam sang Pencipta yang sangat indah.

Perjalanan ke permukaan tanah pun dimulai, perlu waktu sekitar 1 jam untuk sampai di ujung Gua Liah 1 (satu) yang berada di sebuah bukit karst.  Pemandangan di atas bukit tersebut cukup indah, hawa segar dan pemandangan hijau setelah seharian di dalam gua yang gelap, alangkah indahnya negeri ini. Sore mulai menggelayut mengakhiri penelusuran gua di hari itu. Petualangan yang sangat memacu adrenalin dan membuat ketagihan untuk menelusuri gua-gua lainnya, menuru pendataan, gua di daerah kawasan gombong saja terdapat sekitar 240 buah. Ehmm, semoga kapan-kapan kami dapat mencoba sensasi petualangan alam di gua lainnya.

Baca Juga :



1 komentar:

Silahkan tinggalkan jejak anda.

Terima kasih sudah berkomentar