Senin, 22 Agustus 2011

Puncak Manglayang 16-17 Agustus


Semalam, rembulan berteman ribuan bintang sinari relung hati hangatkan jiwa
Bintang-bintang berkerlip manja bersama gemerlapnya jutaan lampu kota di bawah sana
 Gelap malam, sunyi senyap tenangkan jiwa diantara syahdunya sang harmoni alam...


Edelweis di gunung manglayang


Gelap pun berganti terang...
Ku buka mata, dihadapan terbentang cakrawala luas nan indah
Gunung-gemunung di kejauhan terhampar, menjulang berselaput kabut
Burung-burung pun temani tak canggung bernyanyi genit hiasi pagi
Butiran embun menetes di ujung daun, rumput dan bunga
Mentari yang sedari tadi ku tunggu  sekaan tersipu malu tuk nampakkan diri
hanya semburat cahaya kemerahan merekah diantara sang mega...

Angin berhembus nyaman, begitu segar sapa diri
Bunga-bunga indah melambai gemulai, tersenyum diantara bebatuan
Diantara puncak Manglayang ku berdiri, diantara luas hutanmu
Alangkah kecilnya diri yang angkuh ini
Dalam jurang-jurangmu, tebing-tebingmu, lembah-lembahmu
Panorama indahmu lengakapi sunyinya alam
Di balik kejauhan gempita anak manusia...

Di sini ku berpijak, di bumi pertiwi indah permai yang merdeka
Dimana sang Pujangga pernah berujar. " Bumi pertiwi diciptakan saat Tuhan sedang tersenyum"
Alangkah indahnya...

Tuhan seakan ingin ingatkanku tuk slalu membaca dan berucap syukur
Ya, membaca dan belajar , terlebih membaca tentang kebesaran dan keagungan-Nya
Alhamdulilah. Terimakasih ya Tuhan atas karunia serta ciptaan-Mu yang tak terkira luas dan luar biasa
Alam yang membentang elok nan indah di negeriku yang merdeka.


-OPIK-
Bandung, 22 Ramadhan 1432 H

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan tinggalkan jejak anda.

Terima kasih sudah berkomentar