Rabu, 27 Februari 2013

Jalur Klasik, Kereta api Bandoeng-Batavia



Entahlah sekarang saya sedang suka mengulak-ngulik jalur kereta api dengan bantuan internet khususnya yang berada di daerah operasi Bandung dan sekitarnya, walaupun entah kapan saya bisa menjelajah seluruh jalur-jalur tersebut. 

Beberapa waktu yang lalu saya sempat mencoba jalur Bandung - Purawakarta dengan menggunakan kereta api ekonomi Cibatuan yang rencananya akan dilanjutkan menuju Jakarta kota dengan kereta ekonomi Patas PWK (biasa disebut juga odong-odong). Walaupun sedikit sial karena kereta Cibatuan yang saya tumpangi mogok 1 jam lebih di Stasiun Bandung dan otomatis kereta patas ekonomi dari Purwakarta menuju Jakarta telah berangkat dan terpaksa melanjutkan perjalanan dengan bis. Jalur  kereta tersebut bisa dikatakan jalur klasik peninggalan Belanda, walaupun mungkin sekarang orang lebih memilih berkereta menggunakan kereta Argo Parahyangan yang langsung menuju Jakarta (Stasiun Gambir) selain praktis juga nyaman walau ongkosnya jauh lebih mahal dibanding ngeteng 2 kali naik kereta via Purwakarta.


***

Dahulu, hubungan Bandoeng dengan Batavia (Jakarta) makin singkat dengan dibangunnya jalur kereta api lewat Cikampek. Lintasan ini terdiri dari jalur Batavia–Purwakarta yang mempunyai panjang lintasan sekitar 102 km, lalu jalur pegunungan dari Purwakarta–Padalarang dengan lintasan kurang lebih 56 km dan terakhir jalur Padalarang-Bandung dengan lintasan sekitar 17 km. Seperti yang kita ketahui, jalur tersebut harus melalui daerah dengan kontur pegunungan, sungai dan lembah. Maka bisa dikatakan tingkat kesulitan pembangunannya pun jauh lebih tinggi, sehigga konon memakan korban jiwa manusia yang tidak sedikit. 


Selain itu dilintasan ini kita akan melintasi terowongan Sasaksaat yang cukup panjang. Jalur pegunungan Purwakarta-Padalarang memang melintasi medan yang tidak mudah berupa sungai dan lembah/ngarai. Jembatan Cisomang menghubungkan Stasiun Cikadongdong dengan Darangdan yang mempunyai ketinggian sekitar 100 meter sehingga merupakan jembatan tertinggi diantara yang lainnya. Selain jembatan Cisomang, terdapat pula jembatan Cikubang dan Cibisoro yang tingginya mencapai 40-50 meter dari dasar ngarai. Untuk jembatan Cikubang panjangnya mencapai 300 meter dan merupakan jembatan kereta api terpanjang di Pulau Jawa. Sedang jembatan Cibisoro yang menghubungkan Cilame dan Sasaksaat panjangnya 290 meter. Nah, bisa dibayangkan betapa rumitnya membangun jembatan-jemabatan kereta tersebut di antara kontur yang cukup sulit padahal mungkin teknologinya belum se-modern sekarang.


Jalur utama kereta api Batavia – Bandoeng (PP) lewat Cikampek diresmikan tanggal 2 mei 1906. Sebelum jalur tersebut di buka, sebenarnya sudah ada jalur lain Batavia-Bandoeng (PP) tapi via Sukabumi yang memakan waktu sekitar 6 jam, sedang bila lewat Cikampek bisa lebih singkat. Bahkan sampai pada tahun 1941 jalur lewat Cikampek tersebut bisa ditempuh hanya 2 jam 45 menit. Saat itu, operasi kereta tersebut dijuluki De Vlugge vier atau empat cepat, yang bisa diartikan empat kereta api cepat yang beroperasi dalam satu hari, dua dari Batavia dan dua dari Bandoeng. Jalur klasik yang usianya sudah lebih dari seabad tersebut sampai sekarang masih bertahan dan sangat bermanfaat, terlebih dengan adanya kereta Argo Parahyangan yang semakin memudahkan para penumpang.

 Bagaimana, tertarik mencoba jalur klasik kereta api Bandoeng-Batavia atau sebaliknya?




Catatan:
Sumber keterangan dan data seluruhnya disarikan dari Buku “Jendela Bandung, Pengalaman Bersama Kompas” karya Her Suganda, cetakan kedua tahun 2008, penerbit Kompas.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan tinggalkan jejak anda.

Terima kasih sudah berkomentar