Kamis, 10 Juni 2010

Panjalu, Sebuah Sejarah Sepenggal Kisah

Tatar Pasundan, Sekitar Abad 13-14 M

Situ Panjalu, Foto jepretan sendiri
Terdapatlah sebuah kerajaan bercorak agama hindu di tatar Pasundan yang dikelilingi benteng alamiah berupa pegunungan yang membentang membatasi batas kerajaannya dengan kerajaan lain. Kerajaan tersebut adalah Kerajaan Panjalu. Menurut kisah dalam babad panjalu saat masa kerajaan Panjalu dipimpin oleh Prabu Sanghyang Cakradewa kerajaan Panjalu adalah kerajaan yang makmur dan disegani karena kearifan, kebijaksanaan serta adilnya sang raja dalam menjalankan roda pemerintahannya.


Suatu masa sang raja ingin agar kelak saat tua nanti manjadi seorang petapa atau resi dan meninggalkan singgasananya, maka diangkatlah putera pertama sang raja yang bernama Sanghyang Lembu Sampulur II menjadi putera mahkota. Dan putera keduanya yaitu Sanghyang Borosngora menjadi patih dan senopati kerajaan/panglima perang. Nah untuk menjadi seorang panglima perang maka dibutuhkan ilmu yang sakti dan kemampuan berperang yang mumpuni maka diperintahkanlah Borosngora oleh ayahnya untuk berkelana mencari ilmu dan berguru kepada Brahmana, petapa, resi dan orang orang sakti lainnya di penjuru tanah jawa.


Berkelanalah Sanghyang Borosngora, singkat cerita borosngora pun kembali dari perkelanaannya dan pulang ke kerajaan panjalu. Borosngora disambut dengan meriah oleh para kerabat kerajaan. Untuk mengetes kehebatan Borosngora sang raja memerintahkan untuk beradu keahlian pedang dengan kakaknya (Sanghyang Lembu Sampulur II) dihadapan para pejabat kerajaan. Saat keduanya sedang asik beradu keahlian memainkan pedang, secara tek sengaja tersingkaplah kain yang menutupi betis Borosngora dan tampaklah sebuah rajah (Tato) yang menandakan pemilik tato tersebut menganut ilmu aliran hitam. Sang raja pun sangat kecewa terhadap borosngora karena ilmu hitam tersebut tidak sesuai dengan falsafah hidup orang panjalu.

Sang raja pun memerintahkan borosngora untuk membuang ilmu hitam tersebut dan tuk kedua kalinya sang raja meminta Borosngora tuk berkelana dan mencari ilmu sajati yaitu ilmu yang menuju keselamatan. Sang raja pun membekali borosngora sebuah gayung batok kelapa yang di bawahnya diberi lubang lubang, apabila Borosngora dapat menampung air dan airnya tetap penuh maka artinya Borosngora telah menguasai ilmu sajati yang dimaksud.

Untuk kedua kalinya Borosngora pun berkelana dan mencari ilmu yang dimaksud. Dengan berjalan tak tentu arah dan kebingungan borosngora pun mencoba bersemedi dan berdoa meminta petunjuk. Setelah sekian lama meminta petunjuk akhirnya Borosngora pun mendapat petunjuk bahwa orang yang memilki ilmu sajati tersebut berada jauh di seberang samudra di jazirah arab yaitu tanah suci mekkah. Setelah mendapat petunjuk tersebut Borosngora pun bergegas pergi ke Mekkah dan konon perginya tersebut hanya sekejap mata dengan kesaktian yang dimilikinya.

Di Mekkah itu Sanghyang Borosngora bertanya kepada setiap orang yang ditemuinya agar dapat bertemu dengan seseorang yang mewarisi Ilmu Sajati yang dimaksud. Orang-orang yang tidak mengerti maksud sang pangeran menunjukkan agar ia menemui seorang pria yang tinggal dalam sebuah tenda di gurun pasir. Sanghyang Borosngora bergegas menuju tenda yang dimaksud dan ketika ia membuka tabir tenda itu dilihatnya seorang pria tua yang sedang menulis dengan pena. Karena terkejut dengan kedatangan tamunya, pena yang ada di tangan pria tua itu terjatuh menancap di tanah.

Lelaki misterius itu menegur sang pangeran karena telah datang tanpa mengucapkan salam sehingga mengejutkannya dan mengakibatkan pena yang dipegangnya jatuh tertancap di pasir. Setelah bertanya apa keperluannya datang ke tendanya, lelaki itu hanya meminta Sanghyang Borosngora agar mengambilkan penanya yang tertancap di tanah. Borosngora pun segera memenuhi permintaan pria itu, pena yang menancap di tanah itu ditarik sekuatnya ,namum pena itu tak bergerak sedikitpun.

Sanghyang Borosngora segera menyadari bahwa orang yang ada di hadapannya bukanlah orang sembarangan. Sebagai seorang kesatria ia mengakui kehebatan pria itu dan memohon ampun atas kelancangan sikapnya tadi. Borosngora juga memohon kesediaan pria itu untuk mengajarinya ilmu yang sangat mengagumkannya. Lelaki yang kemudian diketahui adalah Sayidina Ali bin Abi Thalib R.A. ini hanya meminta Borosngora mengucapkan kalimat syahadat seperti yang dicontohkannya dan sungguh ajaib, pena yang menancap di tanah itu bisa dicabut dengan mudah olehnya.

Setelah peristiwa itu Borosngora menetap beberapa lama di Mekkah untuk menimba ilmu sajati kepada Baginda Ali R.A. yang ternyata adalah Dien Al Islam (Agama Islam). Di akhir masa menimba ilmunya tersebut Borosngora diberi wasiat oleh Baginda Ali agar melaksanakan syiar Islam di tanah asalnya.Borosngora pun mempunyai nama islam yaitu Syeikh Haji Abdul Iman dan diberi cinderamata berupa Pedang, Cis (tombak bermata dua atau dwisula), dan pakaian kebesaran. Sebelum pulang Borosngora juga menciduk air zam-zam dengan gayung berlubang pemberian ayahnya dan ternyata air zam-zam itu tidak menetes yang berarti ia telah berhasil menguasai ilmu sajati dengan sempurna.

Sinkat cerita Sanghyang Borosngora kembali ke Panjalu dan disambut dengan suka cita oleh sang raja beserta seluruh kerabatnya. Sanghyang Borosngora juga menyampaikan syiar Islam kepada seluruh kerabat istana. Sang Prabu yang telah tua menolak dengan halus ajakan puteranya itu dan memilih hidup sebagai pendeta sebagaimana kehendaknya dahulu dan menyerahkan singgasana kepada putera mahkota Sanghyang Lembu Sampulur II.

Air zam-zam yang dibawa Sanghyang Borosngora dijadikan cikal bakal air Situ Lengkong yang sebelumnya merupakan sebuah lembah yang mengelilingi bukit bernama Pasir Jambu. Gayung berlubang pemberian ayahnya dilemparkan ke Gunung Sawal dan kemudian menjadi sejenis tanaman paku yang bentuknya seperti gayung. Sanghyang Borosngora melanjutkan syiar Islamnya dengan mengembara ke arah barat melewati daerah-daerah yang sekarang bernama Tasikmalaya, Garut, Bandung, Cianjur dan Sukabumi.

Prabu Sanghyang Lembu Sampulur II tidak lama memerintah di Kerajaan Panjalu, ia kemudian hijrah ke daerah Cimalaka di kaki Gunung Tampomas, Sumedang dan mendirikan kerajaan baru di sana. Sanghyang Borosngora yang menempati urutan kedua sebagai pewaris tahta Panjalu meneruskan kepemimpinan kakaknya itu dan menjadikan Panjalu sebagai kerajaan Islam yang sebelumnya bercorak Hindu.

Sebagai media syiar Islam, Sanghyang Borosngora mempelopori tradisi upacara adat Nyangku yang diadakan setiap Bulan Maulud (Rabiul Awal), yaitu sebuah prosesi ritual penyucian pusaka-pusaka yang diterimanya dari Baginda Ali R.A. yang setelah disucikan kemudian dikirabkan dihadapan kumpulan rakyatnya. Acara yang menarik perhatian khalayak ramai ini dipergunakan untuk memperkenalkan masyarakat dengan agama Islam dan mengenang peristiwa masuknya Borosngora memeluk islam.


Panjalu, Ciamis 15 Mei 2010

Curug Tujuh Panjalu, Foto Jepretan sendiri


Beberapa ratus tahun kemudian, seiring perkembangan jaman panjalu berubah menjadi sebuah nama daerah/kecamatan dikabupaten Ciamis, Jawa Barat. Sisa-sisa peninggalan kerajaan masih terdapat di beberapa titik di Panjalu seperti Pasucian Bumi Alit atau yang lebih dikenal Bumi Alit tempat menyimpan pusaka Sanghyang Borosngora dan pulau nusa gede yang berada ditengah situ lengkong yang saat pemerintahan Sanghyang Borosngora adalah pusat kerajaan Panjalu serta saat jaman belanda (1919) dinamai pulau koorders sebagai bentuk penghargaan kepada Dr.Koorders,seorang pendiri sekaligus ketua pertama perkumpulan perlindungan alam Hindia Belanda yang didirikan tahun 1863,dan ini menjadikan Panjalu sebagai daya tarik bagi para pencinta wisata ziarah.

Di depan gerbang pasucian bumi alit, Foto Jepretan sendiri


Selain wisata ziarah panjalu pun menjadi tempat yang cukup menarik bagi para pencinta wisata untuk berekreasi,seperti di air terjun (curug) tujuh cibolang.Curug tujuh cibolang dibuka untuk umum sekitar tahun 1986-1987 an sebagai wana wisata (ada outbound dan perkemahan) Sebelum dibuka menjadi wana wisata curug tujuh cibolang adalah tempat yang dianggap mistis dan keeung serta jarang ada warga sekitar yang mau mendekati kawasan curug,tapi keindahan dan kesegaran air curug lambat laun mengikis rasa mistis dan angker tersebut dikalangan warga,kurang baiknya akses jalan dan menuju curug menjadikan curug tersebut sulit tuk dikunjungi oleh orang dari luar ciamis,tapi semua itu menjadikan kawasan curug terjaga dan tetap asri karena tidak terlau banyaknya pengunjung.

Curug tujuh kenapa dinamai seperti itu dikarenkan memang memiliki tujuh buah curug yang beragam ketinggian dari yang mulai sekitar 100m lebih sampai yang hanya 2 meter an saja.konon air curug pun berkhasiat karena sumber air yang berasal dari kawah gunung sawal yang mengandung belerang.

Cipratan dari atas curug dan kilauan pelangi menambah indah pemandangan ciptaan sang Kholiq tersebut. Menurut warga sekitar terdapat pula di kawasan atas curug deretan batu hitam yang biasa disebut dengan "batu kereta api" karena memang katanya deretan batu tersebut mirip batu gerbong kereta api yang berjejer (12 jejer) tapi untuk mencapai batu tersebut cukup sulit dan harus dipandu warga sekitar.

Keindahan alam dan kearifan budaya tersebut kadang dirusak oleh kita sebagai manusia yang seharusnya menjaga kelestarian lingkungan dan budaya tersebut. (opik)***

Keterangan disarikan dari berbagai sumber

***
 
Karena akun-akun blogger di Multply mau di gusur jadi postingan saya di sana di angkut kesini. Postingan link aslinya http://opakopik.multiply.com/journal/item/12/PanjaluSebuah-Sejarah-Sepenggal-Kisah

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan tinggalkan jejak anda.

Terima kasih sudah berkomentar