Jumat, 15 April 2011

KAA (Konferensi Asia-Afrika) di Bandung

10 tahun setelah bangsa kita memproklamasikan kemerdekaannya, ada suatu peristiwa penting yang dapat menjadi salah satu hal yang membuat kita bangga menjadi orang Indonesia. Nah, republik kita yang masih belia umurnya tersebut sudah bisa melaksanakan sebuah konferensi bertaraf Internasional yang ngebahas soal kemerdekaan bangsa lain di Asia dan Afrika. Gimana ga bangga coba.

Kita pasti sudah tau dong yang namanya Konferensi Asia Afrika a.k.a KAA yang di selenggarain di Kota Bandung tercinta ini, yang sekarang ada museumnya di Jalan Asia-Afrika kota Bandung.


KAA diselenggarain pada tanggal 18-24 April 1955 di Gedung Merdeka dan Gedung Dwi warna sebagai sekretariatnya. Singkatnya KAA tuh berlangsung akibat kolonialisme yang masih berlangsung di beberapa negara dan situasi politik yang ga karuan akibat perang dunia. Untuk sedikit mendinginkan suasana maka diadakan perundingan-perundingan atau konferensi yang intinya sih biar di dunia ini damai dan ga ada lagi penjajahan. Sebelum KAA diselenggarakan ada sebuah konferensi yang namanaya Konferensi Colombo (2 Mei 1954) yang salah satu isinya milih Indonesia sebagai tuan rumah untuk Konferensi selanjutnya, terus masih di tahun yang sama (29 Desember) di bogor di putuskan bahwa KAA sebagai puncak perundingan akan diselenggarakan di kota Bandung.

Pidato pembukaan KAA oleh Presiden Ir.Soekarno, 18 April 1955, Foto : Museum KAA


KAA sendiri diprakarsai oleh beberapa negara seperti Indonesia, India, Pakistan, Burma (Myanmar) dan Srilangka, yang kesemuanya bisa dibilang adalah negara dunia ketiga. KAA diikuti oleh 29 negara di Asia -Afrika. Keputusan penting Konferensi tersebut tertuang dalam Dasasila Bandung. KAA pun menjadi sebuah penyemangat bagi negara lain yang belum merdeka untuk berjuang bahwa kemerdekaan adalah hak segala bangsa tanpa terkecuali. Selain itu KAA pun memunculkan atau memicu sebuah gerakan baru yaitu Gerakan Non Blok yang tak memihak negara Kuat manapun (Amerika atau Unisoviet).

Tugu Dasasila Bandung di depan Hotel Savoy Homan, Foto : http://wisata.kompasiana.com/

Lalu mengapa Bandung yang dipilih ?

Ada beberapa faktor sebagai pertimbangan, yaitu :

Pertama. Faktor alam. Udara Bandung yang dulu seger, sejuk, bersih terus pemandangannya yang indah banget dan kayanya bakal nyaman banget buat sebuah konferensi dunia, ga kaya Jakarta (ibukota) yang dari dulu udah panas, sumpek dan lembab (bukan maksud ngejelekin ya)..hehe.

Yang kedua. Situasi, kondisi keamanan dan fasilitas kota yang cukup memadai saat itu berupa gedung-gedung yang representatif buat sebuah konferensi, seperti Gedung Merdeka, Gedung Pakuan, Gedung Dwiwarna dan hotel yang juga cukup berkelas seperti Hotel Savoy homann dan Grand preanger.

Yang ketiga, bisa jadi faktor "emosi" dan keterkaitan Bung Karno (Presiden saat itu) dengan kota Bandung. Sepertinya Bandung cukup istimewa di mata bung karno dan menyimpan cukup banyak kenangan bersejarah. Bung karno seperti yang kita ketahui melanjutkan jenjang sekolah ingginya di Technische Hoogeschool (ITB sekarang). Pernah pula Bung karno merajut kasih dengan seorang wanita Bandung yaitu Inggit Garnasih yang menjadi istri kedua beliau. Ibu Inggit pulalah yang cukup berjasa pada bung karno hingga menjadi tokoh besar. Lalu di bandung pulalah Bung karno berpolitik dengan memprakarsai PNI (Partai Nasional Indonesia).
Dan masih banyak lagi keterikatan Bung karno dengan kota Bandung.

Kembali ke KAA. Sebelum KAA dilaksanakan, banyak dilakukan perbaikan jalan dan renovasi gedung. Awal tahun 1954 atas perintah Bung karno beberapa gedung direnovasi seperti gedung Societeit Concordia dan Shouwburg yang lalu berganti nama menjadi Gedung Merdeka untuk tempat konferensi. lalu atap masjid agung diubah dari atap tumpang menjadi kubah bentuk bawang. Lalu bekas Gedung Indische Pensioenfonds di Jalan Dipenogoro diperbaiki dan diberi nama menjadi Gedung Dwiwarna yang berfungsi sebagai kantor sektretariat KAA. Gedung Pakuan sebagai tempat istirahat beberapa pemimpin negara Asia-Afrika.
Para delegasi yang berjalan menuju tempat konferensi, Foto : Museum KAA

Jalan yang sekarang bernama Asia-Afrika adalah sebuah jalan yang bersejarah karena para pemimpin bangsa Asia dan Afrika berjalan menuju tempat konferensi termasuk Bung Karno dan Bung Hatta serta delegasi KAA lainnya atau biasa disebut juga sebagai jalan kaki bersejarah atau "Historical Walk". Dulu jalan tersebut bernama Jalan Raya Timur terus diganti jadi Jalan Asia-Afrika pada tahun 1955 saat KAA sebagai pengingat bahwa di jalan tersebut para pemimpin Asia-Afrika pernah berjalan bersama di sana.

Animo masyarakat kota Bandung dan sekitarnya saat itu pun dipastikan sangat antusias menyambut hajatan besar tersebut. Masyarakat bisa melihat para pemimpin dari negara lain yang tentu fisik serta dandanan yang berbeda. Dan tentunya ingin sebuah perubahan besar kepada kehidupan bangsa yang lebih baik dan tanpa penderitaan berupa penjajahan .

Semoga saja semangat KAA itu masih ada hingga kini dan Bandung dapat kembali berjaya.


Sumber Reff:

Artikel Koran "Mengapa KAA dilaksanakan di Bandung?" oleh A Sobana H. dimuat dalam Pikiran Rakyat edisi 24 April 2008

Buku "Bandung Kilas Peristiwa di mata filatellis sebuah wisata sejarah", penulis Sudarsono katam K.

Foto : http://www.asianafrican-museum.org

*Apabila ada kesalahan dalam penulisan dan informasi mohon dikoreksi.

Semoga tulisan yang singkat ini dapat bermanfaat.


Terima kasih.

-opik-
Bandung




2 komentar:

  1. di postingannya ditambahan kamus bahasa sunda tempo dulu, jadi kosakata bahasa sundanya bertambah..hehe

    BalasHapus
  2. ehmm..ide bagus,saya juga blum bisa bahasa sunda yg baik n benar ..tp sarannya di tampung dulu.. :)

    BalasHapus

Silahkan tinggalkan jejak anda.

Terima kasih sudah berkomentar